Cara Umroh yang Baik dan Benar Serta Mabrur

 

Setiap musim haji, sebagaimana dikisahkan oleh Joseph Pitts diatas selalu padat. Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji pasti sudah tahu mengenai tata cara umroh yang baik dan benar, bisa dipastikan melakukan kunjungan spiritual ke Madinah.

Istimewanya, selama didalam perjalanan tidak ada seorangpun yang terlelap. Setiap orang terhanyut dalam lautan zikir. Diantara doa yang dibaca Nabi selama perjalanan dari Mekkah ke Madinah, yaitu Rabbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni makhraja shidqin waj’alni min ladunka sulthanan nashiran. (Ya Tuhan masukkanlah aku dalam keadaan jujur dan benar dan keluarkanlah aku dalam keadaan jujur dan benar pula, serta jadikanlah aku diantara pemimpin yang senantiasa mendapatkan kemenangan).

sungguh beruntung, karena jika orang-orang dulu pergi ke Madinah dengan menaiki unta dan sebagian lagi berjalan kaki, maka saat ini mengendarai bus. Bahkan sekarang sudah tersedia pesawat terbang yang bisa mengantarkan kita dari Mekkah ke Madinah dalam hitungan menit saja. Perjalanan ini mengingatkan pada kisah tentang perjalanan Muhammad SAW bersama ibunya, Siti Aminah dalam rangka mencari makam ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthallib, yang konon berada di Madinah. Perjalanan yang cukup jauh tersebut ditempuh dengan berjalan kaki. Begitu pula saat Nabi memberikan tata cara umroh serta melaksanakan misi hijrah ke Madinah hanya menaiki unta, dan sebagian rombongan yang lain berjalan kaki.

Pada zaman modern, alat transportasi tersedia dengan baik. Biro Umroh Bekasi Melakukan perjalanan spiritual ke Madinah hampir tidak mendapatkan hambatan yang serius. Bagi mereka yang mempunyai harta lebih dapat menggunakan pesawat terbang. Sedangkan bagi mereka yang mempunyai uang pas-pasan bisa melakukan dengan mengendarai bus. Tetapi, mengendarai bus jauh lebih khidmat, karena disitulah kita bisa mendapatkan nuansa perjalanan betapa perjuangan dan pengorbanan Nabi yang amat luar biasa.

Satu pesan penting yang pernah dilontarkan Nabi Muhammad SAW kepada Abu Bakar ash-Shiddiq saat diintai oleh orang-orang Quraysh di Gua Tsur, yaitu la tahzan innallaha ma’ana. Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah SWT bersama kita. Pesan ini dapat menumbuhkan spirit yang luar biasa kepada Abu Bakar dan para sahabat lainnya agar tidak berputus asa dalam mengemban misi Islam. Bahkan belakangan pesan ini dijadikan sebuah judul buku La Tahzan oleh Aidh al-Qarni, seorang ulama terkemuka di Arab Saudi. Buku ini sangat spektakuler di dunia Arab, karena terjual kurang lebih 3 juta eksemplar. Sedangkan di Tanah Air konon buku ini terjual hampir 1 juta esksemplar.

Hal tersebut membuktikan betapa perjalanan Nabi ke Madinah menyimpan mutiara hikmah yang tidak terhingga, terutama dalam rangka memberikan semangat bahwa perjalanan menuju Madinah bukanlah perjalanan biasa. Ia merupakan perjalanan luar biasa. Meminjam istilah yang dipakai oleh Muhammad Jabir al-Anshari (1999), bahwa perjalanan tersebut merupakan peralihan dari kultur nomaden (al-badawah) menuju peradaban adiluhung (al-hadharah al-udzma).

Jika Mekkah disebut sebagai ibu dari segala kota, yang biasa dikenal dengan sebutan ummul qura, maka Madinah adalah kota yang didalamnya menebarkan kebajikan, yang biasa dikenal dengan sebutan Thayyibah.

Di Mekkah, Nabi tinggal kurang lebih 53 tahun. Sedangkan 40 tahun merupakan masa formasi turunnya wahyu yang merupakan titik pencerahan. Sedangkan 13 tahun merupakan masa dakwah Islam, yang dikenal periode dakwah secara sembunyi-sembunyi. Dalam tahun-tahun terakhir di Mekkah, Nabi mendapatkan ancaman dan tantangan yang luar biasa dari kaum pagan Quraysh.

Nabi mulai mempunyai inisiatif untuk melakukan hijrah. Inisiatif tersebut sejalan dengan perintah Tuhan dalam rangka mencari tempat yang kondusif untuk dakwah Islam. Lalu, Nabi tinggal di Madinah kurang lebih 10 tahun. Meskipun demikian, Madinah memberikan dampak psikologis yang sangat luar biasa bagi Nabi dan sahabatnya, karena di kota ini justru Nabi mendapat sambutan yang luar biasa.

 


Leave a Reply