Kominfo: Mari Beralih ke Siaran TV Digital

 

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengajak masyarakat lazim supaya migrasi dari layar kaca analog menjadi layar kaca komputerisasi. Hal itu dilaksanakan untuk memenuhi ketetapan internasional perihal siaran layar kaca komputerisasi.

International Telecommunication Union (ITU) atau otoritas telekomunikasi internasional sudah memberi batas akhir (deadline) terhadap segala negara di dunia, supaya paling lambat, 17 Juni 2015 segala institusi penyiaran menjalankan penyiaran dengan komputerisasi.

Pengaruh dari deadline itu, layar kaca analog yang umum ditonton sehari-hari tak akan dapat mendapatkan siaran lagi. Pada tanggal hal yang demikian, ingin tidak ingin, masyarakat sepatutnya berganti ke layar kaca yang dapat menangkap siaran komputerisasi.

“Popularitas teknologi tak dapat dilawan. Berawal dari layar kaca analog berupa tabung, transistor, IC lalu ke komputerisasi, LCD dan seterusnya. Seperti halnya dengan industri telekomunikasi yang diawali dari 2G, 3G, LTE dan seterusnya,” kata Tifatul di Jakarta, Senin (30/1/2012).

 

Lihat Juga : Set Top Box Terbaik

 

Tifatul menjamin siaran layar kaca komputerisasi akan menciptakan gambar yang bersih dan bunyi yang jernih. Malah cocok dengan Undang-undang No 32 Tahun 2002, layar kaca komputerisasi akan menjamin diversity of ownership, diversity of content dan metode stasiun jaringan (SSJ) yang tak akan memunculkan kasus monopoli.

 

Waktu dan Proses Teknis

Pemerintah akan memisah penyelenggara multiplexer (mux) dengan penyelenggara siaran, tadinya 33 area, kini 15 area dengan 1 area ada 6 mux dan 1 mux ada 12 channel. Jadi dalam 1 area akan tersedia 72 channel layar kaca komputerisasi.

Pemerintah menjamin tak ada lagi monopoli siaran dan kans dibuka seluas-luasnya. Semisal untuk kawasan Jakarta dan Banten termasuk dalam satu area yang memungkinkan ada 72 channel layar kaca.

“Selama ini industri layar kaca cuma didominasi oleh pemain besar. Industri layar kaca kecil yang belum terakomodasi nanti juga dapat berkompetisi dan dapat hidup dengan adanya siaran komputerisasi ini,” tambahnya.

Pemerintah menginginkan waktu migrasi dari layar kaca analog ke komputerisasi diberi batas hingga 2018. Dalam masa transisi, konsumen yang memiliki layar kaca analog membutuhkan set top box tv digital untuk bisa mendapatkan siaran komputerisasi hal yang demikian.

Set top box (semacam decoder) dari pemancar komputerisasi ke penerima analog sedang diproduksi dan diuji coba oleh  siswa SMK. Rencananya mereka akan memasarkan seharga Rp 85.000 per unit.

 

 

Tak Memberatkan

Pemerintah menjamin bahwa siaran layar kaca komputerisasi ini tak akan memberatkan warga. Pemerintah cuma mengimbau terhadap masyarakat yang masih mempunyai layar kaca analog untuk membeli set top box supaya dapat mendapatkan siaran layar kaca komputerisasi.

Mulai ketika ini, pihak Kominfo dan bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan mengimbau terhadap perusahaan yang memproduksi perangkat layar kaca supaya memproduksi layar kaca komputerisasi dan mulai menghentikan produksi layar kaca analog.

Kecuali itu, pemerintah juga sedang menghitung kans bantuan decoder terhadap orang-orang miskin dan diperkirakan akan menghabiskan dana Rp 300 miliar.

“Untuk ketika ini masyarakat dapat membeli set top box. Masih ada transisi selama tujuh tahun sebelum layar kaca analog di-moratorium (dinonaktifkan). Syukur seandainya telah dapat membeli layar kaca komputerisasi,” tambahnya.

 

Cocok hukum

Siaran layar kaca komputerisasi ini juga telah dilaksanakan di negara-negara Eropa. Demikian juga dengan Jepang yang telah mengaplikasikan dual system. Tifatul menganggap bahwa untuk membangun negeri, Indonesia tak boleh tertinggal, terutamanya dalam hal teknologi dan berita.

Dengan layar kaca komputerisasi penerapan frekuensi diyakini akan lebih efisien. Pemerintah mengaplikasikan frekuensi di 474 Mhz sampai 570 Mhz. Dengan sistem ini tak ada lagi yang merajai dua frekuensi di satu area.

Supaya prinsip, kata Tifatul, tak ada lagi layar kaca nasional, selain mereka berjaringan dengan area-area lain. Atas siaran layar kaca komputerisasi ini, diprediksi industri Production House dan Content Provider layar kaca seperti KompasTV, umpamanya, akan berkembang.

“Regulasi industri layar kaca komputerisasi ini makin terarah, kami sedang mengatasi delapan  Menteri (PM) yang mensupport cara kerja siaran komputerisasi ini,” jelasnya.

 

 

 

 

 

 


Leave a Reply